
Kutai Timur — Efisiensi anggaran turut memengaruhi pelaksanaan sejumlah kegiatan pendidikan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Namun, penyesuaian tersebut tidak diarahkan untuk menghentikan program yang telah direncanakan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim memilih menyesuaikan volume kegiatan dengan kondisi anggaran yang tersedia.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengatakan penyesuaian anggaran memang membuat pemerintah daerah perlu menentukan kembali skala pelaksanaan sejumlah kegiatan.
Menurut Mulyono, program yang telah menjadi bagian dari kebutuhan pendidikan tetap diupayakan berjalan, sementara bagian tertentu yang masih memungkinkan untuk dikurangi akan disesuaikan.
“Kalau terkait dengan alokasi anggaran, kami berusaha semua program tetap berjalan. Hanya mungkin volume yang kita kurangi,” ucap Mulyono saat ditemui di ruang kerjanya, Kantor Disdikbud Kutim.
Ia mencontohkan pemberian seragam bagi peserta didik. Apabila sebelumnya cakupan pemberian seragam dapat diberikan kepada seluruh siswa, penyesuaian anggaran membuat perhatian dapat diprioritaskan kepada siswa yang baru memasuki jenjang pendidikan.
“Contoh misalnya seragam. Kalau kemarin semua siswa, sekarang mungkin kita perhatikan untuk siswa yang baru saja,” ujarnya.
Penyesuaian serupa juga dapat dilakukan terhadap sejumlah kegiatan peningkatan kapasitas, termasuk bimbingan teknis atau Bimtek. Kegiatan yang dinilai penting dan berkaitan langsung dengan kebutuhan pendidikan tetap menjadi perhatian, sedangkan kegiatan lainnya dapat dikurangi volumenya.
“Untuk kegiatan Bimtek lain ya kita kurangi, malah yang mendesak banget kita berikan,” jelasnya.
Di tengah penyesuaian tersebut, Disdikbud Kutim tetap memperhatikan sejumlah indikator dalam penyelenggaraan pendidikan. Mulyono menyebut pemenuhan 15 Standar Pelayanan Minimal (SPM), peningkatan Rapor Pendidikan, peningkatan akreditasi sekolah, serta pelaksanaan program unggulan Bupati dan Wakil Bupati tetap menjadi bagian dari ukuran kinerja yang harus dijaga.
“Secara umum empat alat ukur kinerja di sini itu tetap berjalan,” tuturnya.
Dirinya menegaskan efisiensi lebih diarahkan pada pengaturan skala atau volume kegiatan, bukan menghentikan program pendidikan yang telah direncanakan. Penyesuaian tersebut dilakukan agar pelaksanaan program tetap dapat berjalan seiring dengan kondisi anggaran daerah.
“Jadi efisiensi memang berpengaruh, tapi secara umum itu masih berjalan di kita. Hanya mungkin volume saja yang kita kurangi, tapi program-program itu tetap jalan semuanya,” tutur Mulyono.
Dengan pola tersebut, Disdikbud Kutim berupaya menjaga keberlangsungan program pendidikan sekaligus menyesuaikan pelaksanaannya dengan kemampuan anggaran. Efisiensi menjadi bagian dari pengaturan pelaksanaan kegiatan, sementara sasaran utama pelayanan pendidikan tetap menjadi perhatian pemerintah daerah. (TS/ADV)
![]()






