Fasilitas Olahraga Kutai Timur Mulai Berkontribusi terhadap PAD

Kutai Timur – Pembenahan kawasan olahraga di Kabupaten Kutai Timur mulai berdampak pada peningkatan pemanfaatan fasilitas sekaligus memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispora) Kabupaten Kutai Timur, Basuki Isnawan, mengatakan peningkatan tersebut terlihat dari penerimaan retribusi fasilitas olahraga yang mulai masuk ke daerah pada 2024 hingga 2025. Sebelumnya, fasilitas olahraga tersebut disebut belum memberikan kontribusi terhadap PAD.

Menurut Basuki, kondisi itu menunjukkan bahwa fasilitas olahraga tidak hanya dapat digunakan untuk mendukung pembinaan maupun aktivitas masyarakat, tetapi juga memiliki potensi dalam meningkatkan pendapatan daerah melalui penerapan retribusi yang telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda).

“Dari semenjak saya 2024 sampai 2025 yang sebelumnya belum pernah ada PAD, bisa memberikan peningkatan PAD yang luar biasa,” kata Basuki, Senin (21/9/2026).

Ia mengungkapkan, penerimaan yang berasal dari retribusi penggunaan fasilitas olahraga tersebut telah mencapai ratusan juta rupiah sepanjang 2024 hingga 2025. Sebelumnya, mekanisme penerimaan serupa belum berjalan secara optimal.

“Artinya apa, dari olahraga kita juga bisa berkontribusi memberikan pendapatan asli buat daerah, itu satu lompatan yang cukup baik,” ujarnya.

Basuki menjelaskan bahwa pungutan retribusi penggunaan fasilitas olahraga memiliki dasar hukum melalui Perda. Dengan demikian, masyarakat yang memanfaatkan fasilitas tersebut dikenakan tarif sesuai ketentuan yang berlaku. Meski demikian, biaya yang dibebankan kepada pengguna dinilai masih relatif terjangkau.

Ia menilai kemauan masyarakat untuk membayar retribusi juga berkaitan dengan kondisi fasilitas yang semakin baik. Setelah dilakukan pembenahan, masyarakat memperoleh tempat yang lebih layak dan nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas olahraga.

“Orang enggak keberatan karena betul-betul memang murah dan tempatnya baik, lumayanlah, sudah ratusan juta dari 2024 sampai 2025,” jelasnya.

Sebelum dilakukan pembenahan, kondisi kawasan olahraga menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan menggunakan fasilitas. Stadion, misalnya, disebut pernah memiliki rumput yang tinggi, lingkungan yang kurang bersih, hingga toilet yang tidak dapat digunakan.

“Orang mau beretribusi bagaimana kalau stadionnya dulu orang malas, rumputnya tinggi, jorok, terus WC buntu, enggak bisa,” katanya.

Pembenahan yang dilakukan kemudian mendorong peningkatan pemanfaatan fasilitas olahraga oleh masyarakat. Kondisi tersebut turut membuka peluang penerimaan retribusi sekaligus mendukung upaya mengoptimalkan sektor olahraga sebagai salah satu sumber kontribusi terhadap PAD Kabupaten Kutai Timur. (IC/ADV)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *