Kutai Timur — Di tengah kemajuan yang terus digembar-gemborkan, masih ada wilayah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang menghadapi ketimpangan layanan dasar.
Kecamatan Sandaran dan sekitarnya menjadi contoh paling gamblang. Di sana, satu dokter harus melayani beberapa desa, dan sejumlah sekolah dasar masih berdinding kayu rapuh.
Anggota Komisi C DPRD Kutim, Aldryansyah, mengakui hal itu menjadi catatan penting dalam rapat kerja bersama dinas teknis.
“Saya kagum, masih ada dokter yang mau bertahan di situ, padahal aksesnya sangat sulit. Bahkan banyak desa yang tidak punya sinyal, tidak ada listrik, dan jalannya rusak berat,” jelas Aldryansyah saat diwawancarai.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan tenaga medis, tetapi juga para guru yang harus berjalan kaki puluhan menit setiap hari untuk mengajar.
“Masih ada SD yang pakai bangunan kayu. Bayangkan kalau hujan, anak-anak belajar dalam genangan air. Itu bukan hal yang seharusnya terjadi di daerah sekaya Kutim,” sambungnya.
Aldryansyah menilai, persoalan itu bukan sekadar soal dana, melainkan kemauan. Banyak proyek fisik tertunda karena tidak ada kontraktor yang berani mengambil risiko di daerah sulit.
“Mereka takut rugi, karena ongkos logistik mahal. Tapi pemerintah seharusnya hadir dengan solusi lain, bukan menyerah,” tuturnya.
Ia mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim mempertimbangkan insentif khusus bagi daerah sulit, seperti subsidi transportasi material dan bonus bagi tenaga medis atau guru yang mau ditempatkan di sana.
“Kalau mau pemerataan, ya harus ada keberanian memperlakukan wilayah sulit dengan cara berbeda,” tegasnya.
Kesejahteraan tidak diukur dari megahnya gedung di pusat kota, tetapi dari seberapa banyak anak desa bisa belajar tanpa takut bangunannya roboh. (TS/ADV)
