Kutai Timur — Program Cap Jempol Stop Stunting yang dijalankan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini diposisikan sebagai strategi jangka panjang menuju visi Generasi Emas Indonesia 2045, bukan sekadar proyek penurunan angka stunting.
Program ini menjadi investasi sosial besar untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Kutim yang lebih unggul, sehat, dan sejahtera.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menekankan bahwa kualitas generasi masa depan harus dibangun melalui keluarga sejak awal.
“Kalau kita ingin mencetak generasi emas, maka keluarga harus jadi sekolah pertama yang sehat, cerdas, dan berdaya,” ujarnya.
Saat ini berbagai inisiatif DPPKB telah mencakup seluruh fase kehidupan, mulai dari remaja, pasangan muda, hingga lansia. Program seperti Sekolah Siaga Kependudukan, Sekolah Lansia, dan Gerakan GENTING dirancang untuk memperkuat ekosistem keluarga agar bebas dari risiko stunting.
Menurut Junaidi, anak yang tumbuh sehat hari ini merupakan calon pemimpin masa depan.
“Anak yang tumbuh sehat hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Maka kerja kami hari ini bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk Indonesia 20 tahun ke depan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan Kutim sangat bergantung pada konsistensi dan kolaborasi lintas sektor yang telah terbangun.
“Tidak boleh ada program yang berhenti di tengah jalan. Ini tugas lintas generasi,” katanya.
Dari pendekatan teknis hingga penguatan nilai keluarga, Kutim kini bergerak membangun manusia secara utuh. Sebuah perjalanan strategis yang dimulai dari rumah tangga, demi masa depan bangsa yang lebih sehat, kuat, dan berkeadaban.ADV
