Kutai Timur – Langit Sangatta pagi itu menjadi saksi langkah besar Pemkab Kutai Timur dalam mengintegrasikan berbagai program pembangunan dengan agenda nasional penurunan stunting.
Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa gerakan Cap Jempol Stop Stunting bukan sekadar proyek sektoral, melainkan payung kolaboratif yang menaungi puluhan program prioritas daerah demi kesejahteraan masyarakat.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menjelaskan bahwa beberapa program unggulan daerah kini beririsan langsung dengan upaya percepatan penurunan stunting.
“Program Cap Jempol Stop Stunting disinergikan dengan berbagai kegiatan prioritas, agar intervensi terhadap keluarga berisiko dapat dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.
Program tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari peningkatan layanan publik hingga pemberdayaan masyarakat, antara lain:
-
Satu desa satu kendaraan operasional.
-
Satu RT satu motor operasional.
-
Bantuan tenaga kesehatan dan pendidikan.
-
Program gratis susu dan buah bagi anak-anak.
-
Jaminan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan bagi masyarakat rentan.
-
Layanan jemput bola pendidikan non-formal dan warga miskin.
-
Pelatihan keterampilan dan sertifikasi kerja bagi masyarakat.
-
Satu desa satu jaringan air bersih bekerja sama dengan PDAM Kutim dan Dinas PU Cipta Karya.
-
Program Internet Desa dan Sekolah Gratis.
-
Anjungan Dukcapil Mandiri untuk administrasi kependudukan.
-
Program Dokter Keliling untuk desa terpencil.
-
Insentif kader posyandu Rp500 ribu per bulan.
-
Perlindungan hukum bagi anak dan perempuan melalui DP3A.
-
Penyediaan ruang terbuka hijau dan taman ramah anak (Tamasya – Taman Asuh Sayang Anak).
Menurut Ardiansyah, seluruh program tersebut memiliki tujuan besar yang sama, membangun Kutai Timur dari akar keluarga, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan memperkuat fondasi sumber daya manusia menuju Kutim Hebat, Tangguh, dan Berdaya Saing. (SH/ADV)
