Kutai Timur – Di wilayah pesisir timur Kutai Timur, harapan tentang hadirnya cahaya yang merata kini terasa semakin dekat. Di desa-desa yang selama bertahun-tahun hanya bergantung pada genset atau penerangan seadanya, kabar baik akhirnya datang, yakni jaringan listrik permanen akan segera mengalir ke rumah-rumah warga.
Bagi masyarakat yang hidup di laut dan perbukitan, hadirnya listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan tanda bahwa pembangunan benar-benar menyentuh mereka yang berada di ujung peta.
Ketua Komisi III DPRD Kutai Timur, Ardiansyah, memastikan bahwa enam desa di Daerah Pemilihan V telah resmi ditetapkan sebagai penerima program Desa Pemerataan Listrik (DPL) untuk tahun anggaran 2025. Program ini menjadi tonggak besar bagi masyarakat pesisir yang selama ini masih berjuang dengan keterbatasan energi.
“Di Dapil kami ada enam desa yang menjadi DPL, yaitu Mandu Dalam, Mandu Pantai Sejahtera, Pelawan, Peridan, Saka, dan Tepen Terap,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).
Ardiansyah menyampaikan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah yang mulai menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat desa. Listrik, katanya, adalah fondasi dari banyak hal pendidikan anak-anak, kegiatan ekonomi rumah tangga, hingga layanan kesehatan.
“Kita bersyukur bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terkait pemerataan listrik,” katanya.
Ia optimistis bahwa dengan dukungan pemerintah daerah, PLN, serta koordinasi teknis yang terus diperkuat, seluruh desa penerima manfaat akan merasakan hasilnya tidak lama lagi.
“Semoga bisa dirasakan dalam tahun 2025 ini, jadi di tahun depan sudah tidak ada lagi permasalahan terkait listrik,” tegasnya.
Di tengah percepatan pembangunan Kutai Timur, program pemerataan listrik di Dapil V menjadi simbol bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di kota, tetapi harus menembus desa-desa terpencil.
Hadirnya listrik membuka pintu bagi ekonomi baru, mulai dari usaha kecil yang membutuhkan pendingin, nelayan yang membutuhkan freezer, hingga sekolah-sekolah yang ingin mengakses teknologi digital.
Energi yang akan mengalir ke enam desa itu bukan hanya aliran daya, tetapi aliran harapan. Dari Mandu Dalam hingga Tepen Terap, cahaya nantinya akan menyinari rumah-rumah yang selama ini menunggu giliran untuk menikmati hak yang sama, yaitu hidup dalam terang yang layak dan berkelanjutan. (SH/ADV)
