Indeks

Filosofi Pembangunan Kutim: Dari Rumah Tangga Menuju Daerah yang Mandiri

Kutai Timur — Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, mengajak masyarakat untuk memahami pembangunan dari sudut pandang sederhana, yaitu dengan membandingkannya seperti membangun sebuah rumah tangga. Menurutnya, kekuatan suatu daerah tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau proyek yang dijalankan, tetapi lebih ditentukan oleh kemandirian, kerja sama, dan daya tahan seluruh warganya.

“Kalau rumah tangga harus tangguh, begitu pula daerah. Harus mandiri dan siap bersaing,” ujar Mahyunadi saat diwawancarai. Ia menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan harus dimulai dari pondasi yang kokoh. Pondasi tersebut mencakup tiga aspek utama, yaitu infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi rakyat. Ketiga aspek ini menjadi tumpuan penting yang menopang kesejahteraan serta stabilitas jangka panjang bagi Kutim.

Mahyunadi menegaskan bahwa jika pondasi ini goyah, pembangunan pun berisiko gagal, sama seperti rumah yang akan roboh jika fondasinya lemah. Oleh karena itu, setiap program pembangunan harus fokus pada penguatan dasar, mulai dari kualitas infrastruktur, akses pendidikan yang merata, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Pandangan ini menekankan bahwa pembangunan sejati tidak hanya soal angka, laporan, atau proyek besar, tetapi tentang membangun manusia, karakter, dan nilai-nilai ketangguhan dalam masyarakat. Seperti rumah yang berdiri kokoh di atas fondasi yang kuat, daerah yang berakar pada pendidikan, ekonomi rakyat, dan moralitas sosial akan lebih mampu menghadapi perubahan zaman dan tantangan masa depan. Dengan cara ini, Kutai Timur dapat tumbuh menjadi daerah yang mandiri, resilien, dan berdaya saing tinggi di berbagai bidang, serta memberikan kesejahteraan yang merata bagi seluruh warganya. (ADV/TS)

Exit mobile version