
Kutai Timur – Di balik lajunya program Cap Jempol Stop Stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terdapat perjuangan ratusan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bekerja dari desa ke desa menghadapi berbagai keterbatasan lapangan.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, mengakui bahwa para anggota TPK kerap menjalankan tugas dalam kondisi yang tidak mudah.
“Banyak TPK bekerja di wilayah yang sinyalnya sulit. Kadang mereka harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengirim data. Tapi mereka tetap semangat,” ujarnya kepada awak media.
Kendala jaringan internet, kondisi geografis yang menantang, hingga beban kerja rangkap menjadi kewajiban yang harus dihadapi para pendamping keluarga di daerah pelosok. Meski demikian, capaian mereka tetap signifikan.
Hingga saat ini, lebih dari 11.000 data keluarga berisiko stunting telah berhasil diverifikasi dan divalidasi. Informasi tersebut menjadi landasan penting dalam penentuan kebijakan lintas sektor—mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perumahan.
Menurut Junaidi, apa yang telah dilakukan TPK menunjukkan dedikasi yang luar biasa.
“Kami tahu ini bukan pekerjaan ringan. Tetapi selama mereka bekerja dengan hati, dampaknya akan terasa,” jelasnya.
Untuk memperkuat kinerja mereka, DPPKB telah menyiapkan rencana dukungan tambahan, baik dalam bentuk logistik maupun teknologi. DPPKB juga akan memperluas kerja sama dengan BKKBN, khususnya terkait peningkatan kapasitas digital dalam pengolahan dan pelaporan data.
“Kalau TPK kuat, maka Kutim akan lebih cepat bebas dari stunting,” tegasnya.
Kerja senyap yang dilakukan para pendamping keluarga ini membuktikan bahwa perubahan besar kerap dimulai dari langkah kecil para petugas di lapangan.ADV
![]()






