Pendidikan Non-Formal Jadi Pilar Cap Jempol Stop Stunting

Kutai Timur – Di tengah semangat besar menurunkan angka stunting, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menekankan bahwa upaya ini tidak hanya berkutat pada intervensi gizi dan kesehatan, tetapi juga melibatkan pendidikan yang menyentuh semua lapisan masyarakat. Pemerintah memahami bahwa pencegahan stunting memerlukan pendekatan holistik yang mencakup fisik, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan gizi.

Melalui program Cap Jempol Stop Stunting, Pemkab Kutim menggandeng Dinas Pendidikan untuk membuka akses belajar bagi keluarga yang berisiko stunting. Program ini memberikan kesempatan bagi masyarakat, termasuk orang dewasa, untuk memperoleh pendidikan non-formal yang dapat meningkatkan kapasitas keluarga secara menyeluruh.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk kualitas sumber daya manusia di daerah. “DPPKB bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dalam pendidikan non-formal bagi masyarakat, termasuk program sekolah lansia dan paket belajar gratis A, B, C melalui sistem Cap Jempol,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh program ini sepenuhnya gratis dan ditujukan bagi keluarga berisiko stunting, sehingga mereka dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran untuk meningkatkan kualitas hidup.

Pemerintah daerah berharap intervensi stunting tidak hanya memperbaiki kondisi fisik anak, tetapi juga membangun kapasitas manusia sejak usia dini hingga dewasa. Pendidikan dianggap sebagai pondasi utama untuk mencetak keluarga cerdas, tangguh, dan berdaya.

“Ketika pengetahuan dan pemahaman masyarakat meningkat, kesadaran akan pentingnya gizi, kesehatan, dan kesejahteraan juga tumbuh secara alami. Dengan cara ini, upaya penurunan stunting akan lebih berkelanjutan dan berdampak positif bagi generasi Kutai Timur,” pungkas Ardiansyah. (SH/ADV)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *