
Kutai Timur — Di tengah banyak daerah masih bertumpu pada sektor pertambangan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menunjukkan arah pembangunan yang berbeda. Meski dikenal sebagai wilayah kaya batubara, Kutim kini perlahan menegaskan identitas baru melalui sektor pertanian dan perkebunan rakyat. Dari kakao, pisang, nanas, hingga sawit mandiri, berbagai komoditas mulai menampakkan potensi besar sebagai penopang ekonomi daerah di masa depan.
Anggota Komisi C DPRD Kutim, Aldryansyah, menilai bahwa pergeseran orientasi ini harus dijaga konsistensinya dan tidak berhenti sebagai slogan sesaat. Ia menekankan pentingnya keseriusan pemerintah dalam membangun sistem pertanian yang modern dan berkelanjutan.
“Kalau sektor pertanian dan perkebunan rakyat dikelola dengan sungguh-sungguh, Kutim bisa berdiri mandiri tanpa harus terlalu bergantung pada batubara,” tutur Aldryansyah.
Ia menjelaskan bahwa penyusunan Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK) menjadi langkah strategis untuk memetakan potensi unggulan tiap kecamatan. Dengan adanya peta tersebut, pemerintah kini sudah mengetahui lokasi sentra kakao, pisang, maupun persawahan.
“Tugas berikutnya adalah memastikan rantai niaga benar-benar berjalan. Sentra sudah ada, tinggal bagaimana produk itu mengalir ke pasar,” jelasnya.
Menurut Aldryansyah, salah satu masalah krusial adalah promosi dan distribusi. Ia mencontohkan kakao Karangan yang pernah menembus Eropa, namun penyerapannya di Kalimantan Timur justru belum optimal.
“Jangan sampai produk kita lebih terkenal di luar negeri daripada di daerah sendiri. Itu ironis, dan harus segera dibenahi,” ujarnya.
DPRD Kutim, lanjutnya, siap mendorong penguatan hilirisasi, termasuk pembangunan pabrik pengolahan berskala kecil yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani.
“Petani tidak boleh terus-menerus menjual bahan mentah. Mereka harus merasakan manfaat dari nilai tambah produk,” tegasnya.
Kutim kini tengah menapaki babak baru perjalanan ekonominya—bukan dari tambang, tetapi dari tanah yang ditanami dan dikelola dengan keringat masyarakatnya sendiri. (TS/ADV)
![]()






